Rabu, 11 November 2009

COOPERATIVE LEARNING

Memerhatikan tujuan dan esensi pendidikan IPS, sebaiknya penyelenggaraan pembelajaran IPS mampu mempersiapkan, membina, dan membentuk kemampuan peserta didik yang menguasai pengetahuan, sikap, nilai, dan kecakapan dasar yang diperlukan bagi kehidupan di masyarakat (Hamid Hasan, 1996 : Kosasih, 1992). Berdasarkan analisis konseptual dan dan kondisi pendidikan IPS ternyata tidak sedikit mahasiswa mengalami kesulitan dalam mengikuti matakuliah karena metode pembelajaran yang dipilih dan digunakan oleh dosen dirasa kurang tepat. Kondisi proses belajar mengajar di perguruan tinggi masih diwarnai oleh penekanan pada aspek pengetahuan. Mungkin dosen sudah merasa mengajar mahasiswa dengan baik, tetapi mahasiswanya tidak belajar sehingga terjadi salah konsep.
Sehubungan dengan permasalahan di atas, maka upaya peningkatan kualitas belajar mengajar IPS dapat dilakukan dengan model pembelajaran Cooperative Learning. Model pembelajaran ini berangkat dari “getting better together “ yang menekankan pada pemberian kesempatan belajar yang lebih luas dan suasana yang kondusif. Pada model pembelajaran Cooperative Learning, mahasiswa tidak hanya belajar dan menerima apa yang disajikan dosen, melainkan dapat belajar dari mahasiswa lain serta mempunyai kesempatan untuk membelajari mahasiswa yang lain.


COOPERATIVE LEARNING

Pengertian Cooperative Learning

Cooperetive mengandung pengertian bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama (Hamid Hasan, 1996) Jadi belajar kooperatif adalah pemanfaatan kelompok kecil dalam pengajaran yang menungkinkan mahasiswa bekerjasama untuk memaksimalkan belajar mereka dan anggota lainnya dalam kelompok tersebut.
Dalam pembelajaran menggunakan Cooperative Learning, pengembangan kualitas diri mahasiswa terutama aspek afektif mahasiswa dapat dilakukan secara bersama-sama. Belajar dalam kelompok kecil dengan prinsip kooperatif sangat baik digunakan untuk mencapai tujuan belajar, baik yang sifatnya kognitif, afektif, maupun konatif.
Dosen dengan kedudukannya sebagai perancang dan pelaksana pembelajaran dalam menggunakan model ini harus memperhatikan beberapa konsep dasar dalam penggunaan model ini, yaitu antara lain:
a. Perumusan tujuan mahasiswa harus jelas
b. Penerimaan secara menyeluruh oleh mahasiswa tentang tujuan belajar
c. Ketergantungan yang bersifat positif
d. Interaksi yang bersifat terbuka
e. Tanggungjawab individu
f. Kelompok bersifat heterogen
g. Interaksi sikap dan perilaku sosial yang positif
h. Tindak lanjut
i. Kepuasan dalam belajar

Langkah-langkah dalam Pembelajaran Cooperative Learning

Langkah-langkah dalam pembelajaran Cooperative Learning secara umum (Stahl,1994: Slavin,1983) dapat dijelaskan secara operasional sebagi berikut.
a. Merancang rencana program untuk pembelajaran
b. Merancang lembar observasi yang akan digunakan untuk mengobservasi kegiatan mahasiswa dalam belajar secara bersama dalam kelompok-kelompok kecil.
c. Mengarahkan dan membimbing mahasiswa,baik secara individual maupun kelompok, aik dalam memahami materi maupun mengenai sikap dan perilaku mahasiswa selama kegiatan belajar berlangsung.
d. Dosen memberikan kesempatan pada mahasiswa dari masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasil kerjanya.

Hasil Penelitian yang Telah Dilakukan Mengenai Cooperative Learning


Berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa efektivitasnya sangat tinggi bagi perolehan hasil belajar siswa baik dilihat dari pengaruhnya terhadap penguasaan materi pelajaran maupun pengembangan dan pelatihan sikap serta keterampilan sosial yang sangat bermanfaat dalam kehidupan di masyarakat.



ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

Konsep Ilmu Pengetahuan Sosial di Indonesia meliputi:
a. Interaksi
b. Saling ketergantungan
c. Kesinambungan dan perubahan
d. Keragaman / Kesamaan / Perbedaan
e. Konflik dan Konsesus
f. Pola (Pattern)
g. Tempat (Lokasi)
h. Kekuasaan
i. Nilai kepercayaan
j. Keadilan dan pemerataan
k. Kelangkaan
l. Kekhususan
m. Budaya
n. Nasionalisme


PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

Media bahan dan alat belajar. Transparansi, program kaset audio, dan program video adalah contoh dari bahan belajar. Bahan belajar tersebut hanya bisa disajikan dengan alat misalnya OHP, radio, kaset, video player.
Manfaat media pembelajaran antara lain:
a. Penyampaian materi pelajaran dapat diseragamkan
b. Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik
c. Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif
d. Efisiensi dalam waktu dan tenaga
e. Meningkatkan kualitas hasil belajar
f. Media memungkinkan proses pembelajaran dilakukan di mana saja dan kapan saja
g. Media dapat menumbuhkembangkan sikap positif siswa / mahasiswa terhadap materi dan proses belajar
h. Mengubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif.
Jenis dan kharakteristik media pembelajaran

GOLONGAN MEDIA CONTOH DALAM PEMBELAJARAN

1 Audio Kaset audio, siaran radio, CD, telepon
2 Cetak Buku pelajaran, modul, brosur, Leaflet, gambar
3 Audio Cetak Kaset audio dilengkapi gambar tertulis
4 Proyeksi Visual Diam OHT, film bingkai (slide)
5 Proyeksi Audio Visual Diam Film bingkai (slide) bersuara
6 Visual Gerak Film gerak bersuara, Video / VCD, Televisi
7 Audiovisual Gerak Film gerak bersuara, video / VCD, Televisi
8 Objek Fisik Benda nyata, model, spesimen
9 Manusia dan Lingkungan Guru, Pustakawan, Laboran
10 Komputer CAI ( Pembelajaran Berbantuan Komputer), CBI ( Pembelajaran Berbasis Komputer).

Secara umum, kriteria yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan media pembelajaran sebagai berikut.
a. Tujuan
b. Sasaran didik
c. Karakteristik media yang digunakan
d. Waktu
e. Biaya
f. Ketersediaan
g. Konteks penggunaan
h. Mutu teknis
Prinsip pemanfaatan media yaitu:
- Setiap jenis media memiliki kelebihan dan kelemahan
- Jangan berlebihan dalam menggunakan media pembelajaran
- Penggunaan media harus bisa memperlakukan siswa / mahasiswa secara aktif
- Sebelum media digunakan, harus direncanakan secara matang dalam penyusunan rencana pelajaran
- Hindari pemanfatan media yang hanya dimaksudkan sebagai selingan atau sekedar pengisi waktu kosong
- Harus senantiasa dilakukan persiapan cukup sebelum penggunaan media.





LABORATORIUM ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

Laboratorium pendidikan IPS merupakan wahana bagi tenaga kependidikan dalam mencari, menemukan, mengumpulkan, dan mengolah data menjadi pengetahuan yang berguna untuk meningkatkan kemampuan maupun keterampilan dalam melaksanakan pembelajaran pendidikan IPS.
Laboratorium terpadu IPS sesungguhnya adalah di lapangan. Alat yang dip[erlukan untuk isi dan proses kegiatan laboratorium terpadu dibagi dua kelompok besar yaitu alat outdoor (lapangan) dan alat indoor (ruangan).


EVALUASI DALAM PEMBELAJARAN PENGETAHUAN SOSIAL

Penilaian adalah proses untuk memperoleh informasi untuk tujuan pengambilan keputusan tentang kebijaksanaan pendidikan, kurikulum, dan program pendidikan atau tentang kegiatan belajar siswa / mahasiswa. Evalusasi adalah proses untuk menimbang kenaikan dari kinerja siswa / mahasiswa.
Alat evaluasi dibedakan menjadi dua yaitu tes dan nontes. Berikut penjelasan dari masing-masing alat evaluasi tersebut.
a. Tes, terdiri dari
- Lisan
- Tes tertulis ( tes subyektif dan tes obyektif)
- Tes perbuatan
b. Nontes, terdiri dari
- Observasi
- Daftar cek
- Temu wicara
- Catatan harian
- Hasil karya siswa
- Rangkuman pengalaman
- Daftar catatan harian

Penilaian Berbasis Kelas
Penilaian Berbasis Kelas (PBK) dilakukan dengan pengumpulan kerja siswa (portfolio), hasil karya (produk), penugasan (proyek), kinerja (performance), dan tes tertulis. Hal-hal yang harus dinilai meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Ketiga ranah ini hendaknya dinilai secara proporsional sesuai sifat matapelajaran.
Prinsip dalam PBK yaitu :
a. Valid
b. Mendidik
c. Berorientasi pada kompetensi
d. Adil
e. Terbuka
f. Berkesinambungan
g. Menyeluruh
h. Bermakna

Tidak ada komentar:

Posting Komentar