Senin, 20 Desember 2010

PENGENALAN BERBAGAI JENIS CITRA PENGINDERAAN JAUH

A. TUJUAN
Tujuan dari praktikum ini adalah.
1. Pengenalan berbagai jenis citra penginderaan jauh (citra dan citra non-foto)
2. Identifikasi berbagai obyek bentang budaya maupun bentang alam secara monoskopis berdasarkan data penginderaan jauh foto udara dan citra satelit.

B. BAHAN ALAT
1. Foto udara (pankromatik hitam putih).
2. Citra non foto (citra satelit landsat).

C. DASAR TEORI
Citra penginderaan jauh dapat dibedakan menjadi citra foto dan citra non foto, Citra foto secara umum disebut foto udara; sedangkan cita non foto biasanya diklasifikasikan berdasar spectrum yang digunakan (gelombang mikro dan termal dan atau wahana yang digunakan (Citra Satelit)).
Ada beberapa dasar klasifikasi citra foto, antara lain diklasifikasikan berdasarkan panjang gelombang elektromagnetik yang digunakan pada waktu pemotretan. Tujuan dari klasifikasi tersebut adalah untuk memudahkan memahami karakteristik obyek muka bumi yang terekam oleh suatu jenis citra foto tertentu. Atau dengan kata lain, dengan menggunakan panjang geombang tertentu akan diperoleh suatu citra foto yang mempunyai karakteristik khusus. Untuk dapat melacak kembali obyek yang terekam pada citra, maka penafsiran harus memahami tentang spectrum yang digunakan pada waktu rekaman disamping beberapa faktor yang lainnya.
Interpretasi foto dilakukan dengan mendasarkan teknik interpretasi foto yang mendasarkan pada delapan unsur interpretasi yakni,
1. Rona atau warna
Merupakan tingkat kegelapan atau kecerahan atas tingkat kecerahan obyek yang terekam pada foto udara. Rona dinyatakan dalam cerah, kelabu, kelabu gelap, dan gelap.
2. Bentuk
Merupakan variabel yang memberikan konfigurasi atau kerangka suatu obyek. Dinyatakan dalam bentuk bulat, empat segi panjang, segitiga, dsb.
3. Ukuran
Merupakan atribut obyek pada foto udara yang antara lain berupa jarak, luas, kemiringan, isi dan tinggi obyek.
4. Tekstur
Merupakan frekuensi perubahan rona pada foto udara, atau pengulangan rona kelompok obyek yang terlalu kecil unutk dibedakan secara individuall. Tekstur dinyatakan dengan tingkatan kasar, sedang, dan halus.
5. Pola
Merupakan pola atau susunan keruangan yang merupakan ciri yang menandai bagi banyak obyek bentukan manusia dan bagi beberapa obyek alamiah lainnya. Pola dinyatakan sebagai kompak, teratur, tidak teratur, atau agak teratur (campuran).
6. Bayangan
Bersifat menyembunyikan detail atau obyek yang ada di daerah yang gelap. Bayangan merupakan kunci interpretasi bagi beberapa obyek yang justru lebih mudah dikenali dan lebih nampak dari bayangan, misalnya untuk jenis vegetasi.
7. Situs
Situs dikelompokkan ke dalam tingkat kerumitan interpretasi yang lebih tinggi. Situs bukan merupakan ciri obyek, melainkan dalam kaitan dengan lingkungan sekitarnya atau bisa disebut bahwa situs adalah letak obyek terhadap bentang darat atau letak obyek terhadap obbyek lain disekitarnya. Misalnya situs pohon kopi terletak di tanah yang kering karena tanaman kopi memerlukan pengatusan air yang baik.
8. Asosiasi
Keterkaitan antara obyek yang satu dengan obyek yang lain. Contohnya stasiun kereta api berasosiasi dengan rel kereta api dan deretan gerbong kereta api.

D. CARA KERJA
1. Menyiapkan citra penginderaan jauh (citra foto dan non foto);
2. Mengamati karakteristik citra tersebut dalam merekam obyek muka bumi.
3. Membandingkan kemudahan dalam pengenalan, dan kejelasan maupun kerincian obyek yang diamati tersebut pada setiap citra yang ada. Untuk memperjelas obyek yang diamati, gunakan kaca pembesar (loupe).
4. Mengenali obyek bentang budaya dan obyek bentang alam (masing-masing 5 obyek). Data penginderaan jauh yang digunakan untuk menafsir adalah foto udara pankromatik hitam putih. Dasar yang digunakan untuk melakukan interpretasi adalah unsur-unsur interpretasi dengan menggunakan tabel interprestasi untuk menafsirkan obyek yang dikaji tersebut.
5. Mengerjakan hal yang sama seperti butir 4, tetapi dengan menggunakan cita satelit komposit warna sebagai dasar pengenalan.

E. HASIL
(disajikan dalam kertas transparan)




F. PEMBAHASAN
Hasil interpretasi citra foto udara menunjukkan daerah interpretasi Lamongan memiliki bentang budaya antara lain permukiman, sawah, jalan, pabrik, dan tambak. Semua obyek yang terekam dalam foto udara dapat diinterpretasi dengan baik. Obyek permukiman dicirikan dengan rona kelabu, dengan ukuran luas berbentuk empat segi panjang, tekstur agak kasar karena frekuensi perubahan rona atau warna pada obyek pemukiman sangat banyak. Terdapat bayangan yang mengikuti obyek permukiman ini yaitu bayangan gelap yang mencirikan vegetasi yang ada di permukiman. Asosiasi dari permukiman adalah dekat dengan jalan.
Jalan raya mempunyai rona atau warna yang cerah dengan ukuran yang sempit, berbentuk garis (linier) bertekstur halus dengan pola teratur, tidak dicirikan dengan adanya bayangan namun biasanya didikuti dengan vegetasi yang memanjang mengiringi jalan tersebut. Asosiasi dari obbyek jalan adalah obyek permukiman. Sawah dicirikan dengan rona atau warna kelabu dan bertekstur kasar namun mempunyai pola yang teratur, berasosiasi dengan sungai, pematang dan saluran irigasi, dan untuk irigasi sendiri mempunyai rona yang kelabu dengan bentuk garis (linier) yang membentuk pola teratur asosiasinya adadalah dengan sungai dan sawah.Bentang budaya yang lain yaitu pabrik dan tambak. Untuk pabrik mempunyai rona yang cerah dengan bentuk segiempat dicirikan dengan pola teratur yang dekat dengan permukiman dan jalan.
Bentang alam yang terekam dalam foto udara daerah Lamongan adalah obyek sungai dengan rona kelabu karena biasanya perairan dicirikan dengan warna kelabu atau gelap. Luas obyek sungai adalah sempit karena bentuknya yang seperti garis namun berkelok-kelok dengan diikuti bayangan yang mencirikan adanya vegetasi yang memanjang mengikuti bentuk sungai tersebut. Pola dari obyek sungai ini adalah teratur dan berasosiasi dengan sawah.
Pada Citra satelit bentang budaya yang terekam dengan jelas antara lain permukiman dan sawah. Permukiman dicirikan dengan warna merah bata dengan bentuk hampir seperti empat segi panjang dengan tekstur yang halus dengan pola tidak teratur Karena pola susunannya tidak teratur. Pada citra satelit propinsi Bali ini permukiman berasosiasi dengan perairan. Sawah dicirikan dengan warna hijau muda atau hijau kekuningan dengan ukuran yang luas berbentuk segiempat dengan pola yang tidak teratur dan tidak ada bayangan.
Bentang alam yang terekam oleh citra satelit dan dapat diinterprretasi dengan mudah adalah perairan, hutan, dan bukit. Perairan dicirikan dengan warna gelap atau hitam dengan situs laut. Hutan dicirikan dengan warna hijau tua dengan pola yang agak teratur, tidak ada bayangan namun berasosiasi dengan sawah dan bukit. Bukit sendiri dicirikan dengan warna coklat atau hijau coklat. Dengan pola yang teratur dan berasosiasi dengan sawah, karena bukit sering berkaitan dengan sawah.

G. KESIMPULAN
Citra foto dapat menmpakkan obyek linier (sungai, jalan), permukiman dan daerah dengan jelas daripada citra satelit meskipun rona atau warnanya hanya hitam, gelap, kelabu, dan putih / cerah. Citra satelit tidak dapat menampakkan hal tersebut dengn jelas namun dapat menunjukkan warna sesungguhnya dari obyek serta ketingian dari obyek tersebut.

H. DAFTAR PUSTAKA
Suryantoro, Agus. 2006. Handout Penginderaan Jauh. Universitas Negeri Malang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar